Minggu, 02 Oktober 2011

PEMIMPIN IDEAL MENURUT AJARAN AGAMA HINDU


PENDAHULUAN
Kelangsungan hidup atau kesuksesan suatu Negara dalam sejarah ternyata dipengaruhi oleh para pemimpin-pemimpinnya.  Pemimpin yang dapat mempengaruhi rakyatnya baik di dalam berpikir, berkomunikasi maupun berlaksana di dalam upaya meningkatkan kinerja mereka sebagai wujud konstribusi mencapai tujuan.  Dari kerangka berpikir ini, dapat dikatakan bahwa meskipun suatu Negara memiliki sumber daya yang berkecukupan seperti sumber daya manusia, sumber daya alam bila dikelola oleh seorang pemimpin yang tidak baik karakteristiknya , janganlah berharap suatu Negara akan mencapai kesuksesan.
Didalam mantra Yayurveda terdapat pengertian bahwa menjadi pemimpin adalah swadharma dari sabda Tuhan.
Yayurveda,X.21:
Pemimpin dipilih atau diangkat adalah untuk menghapuskan kemiskinan dan meningkatkan  kesejahteraan rakyatnya
Yayurveda,XIII.30:
Seorang pemimpin melindungi rakyatnya tanpa merugikan mereka
Dari kutipan dua mantra diatas diperoleh suatu makna tentang swadharma seorang pemimpin sesuai dengan yang dikehendaki  oleh Tuhan.Keberadaan seseorang sebagai pemimpin, menurut mantra Yayurveda yang dikutip diatas memiliki swadharma ( tugas dan kewajiban ) yakni: (1) pemimpin bekerja (berkarma) untuk kesejahteraan orang lain yang dipimpin melalui berbagai program pengentasan kemiskinan. (2) Kewajiban seorang pemimpin adalah melindungi rakyat tanpa merugikan mereka.
Didalam ajaran Asta Brata terdapat delapan landasan moral yang harus dimiliki seorang pemimpin. Adapun bagian-bagian dari Asta Brata tersebut, sebagai berikut :
1.      Indra Brata                 : memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat
2.      Surya Brata                 : mengarahkan rakyat ke tujuan yang baik
3.      Bayu Brata                 : menunjukkan keteguhan pendirian serta ikut merasakan kesusahan rakyat
4.      Candra Brata              : menunjukkan kebesaran jiwa kepada rakyat
5.      Agni Brata                  : memberikan semangat yang berkobar-kobar kepada rakyat
6.      Kwera Brata               : menggunakan uang Negara dengan sebaik-baiknya
7.      Yama Brata                : menegakkan hukum dan menciptakan keadilan
8.      Baruna Brata              : membersihkan segala bentuk penyakit masyarakat
Maka hendaknya seorang pemimpin mengamalkan ajaran-ajaran Asta Brata agar bisa lebih berintropeksi diri dalam mengambil kebijakan.













ISI
Semakin hari semakin bertambah usia bangsa ini. 63 tahun sudah bangsa ini berdaulat dan 6 kali juga telah terjadi pergantian pemimpin Negara. Dari era orde lama,orde baru hingga reformasi. Segala perubahan telah terjadi pada Bangsa Indonesia ini, mulai  dari sistem pemerintahan sampai cara pemilihan umum.
Sejumlah masalah pun mulai bermunculan dari semua sektor. Dari kemiskinan, pengangguran,  keamanan, anak-anak busung lapar,  harga rupiah yang semakin anjlok di dalam perekonomian dunia,  dan masih banyak lagi masalah-masalah yang belum terselesaikan.
Setiap perubahan kepemimpinan Negara pasti  akan meninggalkan masalah – masalah yang berat bagi pemimpin penggantinya. Sebagai contoh coba kita lihat kebobrokan dari Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun, KKN merajarela, terjadinya kekuasaan tunggal satu partai bahkan penentangan rakyat pada masa itu sangat sulit karena bila berani ada yang menentang maka malam harinya diculik dan dibunuh secara misterius. Hingga diakhir masa Orde Baru, bangsa ini mengalami krisis moneter yang sangat hebat sehingga datanglah badan penyehatan keuangan Internasional yang menyebabkan utang Negara menjadi besar
Ketidakpercayaan rakyat pada masa orde baru membuat rakyat mengumpulkan  suatu tekad yang bulat untuk meninggalkan orde baru dan membentuk suatu orde yang baru dengan nama reformasi.Dan masa ini hingga sekarang masih berkuasa di Indonesia.  Namun masa ini belum menunjukkan prestasi yang luar biasa. Malah yang terjadi rakyat menjadi acuh tak acuh kepada pemimpin Negara atau pejabat Negara. Karena makin maraknya kasus korupsi di kalangan anggota Dewan, skandal pejabat Negara, harga BBM yang naik turun, harga sembako yang melambung tinggi , korban lumpur Lapindoi.Itu semua menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin bangsa ini masih kurang peduli untuk mensejahterahkan rakyat dimana ini tercantum dalam cita-cita Negara yang terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea terakhir.
Mungkin kita sulit menemukan pemimpin seperti Bung Karno yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan terkenal dekat dengan rakyat sehingga beliau  diberi julukan “Penyambung Lidah Rakyat”.  Rakyat pun sangat bersimpati kepada beliau karena Bung Karno memiliki kharismatik yang tinggi. 
Sekarang rakyat Indonesia berharap akan lahirnya pemimpin masa depan bangsa yang mampu mendengarkan, menyalurkan, dan melaksanakan aspirasi masyarakat.  Rakyat juga berharap   akan munculnya  Bung Karno Muda yang mampu membawa Indonesia keluar dari keterpurukan.  Disamping itu pemimpin masa depan juga harus memiliki tipe kepemimpinan  yang berbeda dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. 
Bagaimana caranya memunculkan pemimpin masa depan bangsa ini?  Memunculkan pemimpin masa depan harus dengan merasionalkan pikiran masyarakat. Jika rasionalitas masyarakat telah tercipta, maka kepemimpinan nasional akan terbentuk dari sebuah sistem demokrasi yang kuat. Ada rule of the game yang jelas.  Pemimpin masa depan juga harus menjadi teladan bagi rakyatnya. Jika para elite rasional, maka pengikutnya juga rasional. 














PENUTUP
Rakyat Indonesia berharap akan lahirnya pemimpin masa depan yang dapat mensejahterahkan rakyat, mampu mendengarkan, menyalurkan, dan melaksanakan aspirasi masyarakat. Berharap akan lahirnya Bung Karno Muda yang mampu membawa Indonesia keluar dari keterpurukan. 
Memunculkan pemimpin masa depan harus dengan merasionalkan pikiran masyarakat. Jika rasionalitas masyarakat telah tercipta, maka kepemimpinan nasional akan terbentuk dari sebuah sistem demokrasi yang kuat. Ada rule of the game yang jelas.  Pemimpin masa depan juga harus menjadi teladan bagi rakyatnya. Jika para elite rasional, maka pengikutnya juga rasional. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar